Senin, 30 Juni 2014

5 Hal Agar Puasa Lebih Bermakna

Ramadan adalah bulan penuh berkah. Orang berlomba-lomba melakukan kebaikan di bulan ini karena pahalanya akan ditambah berkali lipat. 

Namun ada yang harus diingat, niat adalah yang utama. Jangan sampai melakukan kebaikan hanya untuk menerima pujian dari orang lain.

Berikut lima hal sederhana yang bisa dilakukan agar puasa Anda lebih bermakna seperti dilansir dari laman Arabia.msn.

Komunikasi dengan-Nya
Selama ini, Anda bisa mengobrol dengan teman hingga berjam-jam. Namun di bulan Ramadan, luangkan waktu lebih banyak dengan Sang Pencipta ketimbang menghabiskan waktu bercakap dengan teman dan kolega. Berkomunikasilah dengan doa. Selain itu jangan lupa mengucap rasa syukur.

Membantu orang lain
Banyak orang di sekitar yang membutuhkan bantuan Anda. Orangtua, adik, kakak, atau teman. Tidak selalu berbentuk uang, meluangkan waktu bersama bisa menjadi cara lain.

Berbagi
Berbagi tidak hanya di media sosial dengan berbagai jenis posting-an. Anda bisa mencoba membagikan barang yang tidak terpakai kepada mereka yang membutuhkan. Anda juga bisa melakukan sederhana dengan memberikan tumpangan kendaraan kepada teman yang memerlukan.

Tersenyum
Senyum merupakan hal sederhana yang bisa membuat suasana hati orang lebih riang. Tapi bukan senyum menggoda ya.

Menjaga perkataan
Masih ingat dengan peribahasa lidah tidak bertulang, salah petik jiwa hilang? Peribahasa yang berarti orang yang mendapat kemalangan karena tiada tahu menjaga tutur katanya ini bisa menjadi pengingat di bulan puasa. Di bulan Ramadan ini, jagalah tutur kata Anda. Bila ingin mengkritik, lontarkan dengan kalimat yang sopan.

Minggu, 29 Juni 2014

PUASA... Jangan Tidur Terus!!!!

Puasa pertama yang kebetulan jatuh di hari libur tak lantas menghalalkan Anda bermalas-malasan. Jika ada niat menghabiskan waktu dengan tidur sampai waktu berbuka tiba, urungkan segera.

Sebab, itu bisa berbahaya bagi kesehatan, baik fisik maupun mental. Penelitian membuktikan, terlalu banyak tidur sama bahaya dengan tidur kurang. Keduanya sama-sama menumpulkan kemampuan otak.

Itu disimpulkan setelah peneliti dari University of Warwick menguji kesehatan sekitar 9 ribu lansia selama sebulan. Lansia yang usianya 65 hingga 89 tahun, disarankan tidak tidur terlalu lama.

“Jumlah tidur yang kita butuhkan, dan dampaknya terhadap tubuh maupun otak, berubah seiring usia,” kata Dr Michelle Miller, salah satu peneliti, seperti dikutip dari Daily Mail. Waktu tidur lansia harus pas.

Jika bisa tidur sesuai kebutuhan, penulis penelitian, Profesor Francesco Cappuccio melanjutkan, penurunan mental bisa dicegah. Begitu pula dengan demensia, yang sering jadi masalah lansia.

Miller dan Cappuccio mengakui, tidur enam sampai delapan jam memang penting bagi tubuh dan mental. Namun, ukuran itu optimal untuk usia dewasa muda.

Tidur cukup dapat mencegah obesitas, hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan stroke. Saat tidur, tubuh akan menyingkirkan racun berbahaya yang terakumulasi dari siang.

Namun, pada lansia, tidur yang terlalu lama justru bisa menimbulkan masalah. Peneliti menjelaskan, penyebabnya mungkin kualitas tidur yang berkurang akibat waktu yang terlalu lama. Tidur jadi gelisah.

Sementara itu, tidur gelisah bisa mengganggu memori, mengecilkan otak, juga membuat stres. Penelitian sebelumnya juga pernah menyebut, tidur berlebihan bisa memicu diabetes serta penyakit jantung.

(Sumber)